Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, August 28, 2010

Sejarah Jepang (Awal Mula Terjadinya Jepang)

Sejarah Jepang




Awal Mula Terjadinya Jepang

Jepang kini sudah dikenal masyarakat dunia bukan lagi sebagai negara berkembang melainkan sebagai negara maju.. Hal ini dibuktikan dengan merajalelanya produk-produk yang beredar dengan lebel Negara Matahari Terbit tersebut. Seperti konsumsi (rumah makan), barang elektronik, transportasi, pakaian, dan bahan baku lainnya bahkan atom & nuklir.

Jepang sendiri adalah negara yang tidak begitu luas dibandingkan dengan Indonesia. Namun Jepang sudah mampu mengalahkan negara-negara Asia lainnya. Luas negara Jepang sendiri adalah + 378.000km2 (ada pula yang menyebutkan hanya 370.000 km2). Itu berarti hanya 1/25 (seper dua puluh lima) dari negara Amerika. Bahkan cenderung lebih kecil dari Kalifornia.

Berdasarkan keadaan geografis dan sejarahnya, Jepang dibagi menjadi sembilan kawasan dari 47 prefektur. Kesembilan wilayah tersebut adalah Hokkaido, Tohoku, Kanto, Chubu, Kinki, Chugoku, Shikoku, Kyushu, dan Okinawa. Sedang empat pulau utamanya adalah Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu.

Selain dikenal sebagai product monster, Jepang juga dikenal sebagai negara misteri karena penuh tanda tanya dan sejarah. Mulai dari agama, bahasa, kebudayaan, penduduk, hingga awal terjadinya kepulauannya. Jika Amerika ditemukan oleh Colombus?, maka tidak begitu dengan Jepang.
Awal terjadinya kepulauan Jepang dimulai pada masa Palaozoic. Kala itu Jepang masih merupakan dasar lautan. Setelah memasuki masa Mesozoic, dasar lautan yang dimaksud mengalami perubahan dan membentuk daratan yang menyambung dengan Asia. Namun, pada akhir periode III masa Cenozoik, daratan tersebut kembali ke dasar laut.
Pada periode IV masa Deluvium, dasar laut tersebut timbul kembali dan sekali lagi menyatu dengan Asia. Setelah mengalami banyak perubahan alam dan cuaca, pada zaman es ke-3 (Dilivium), daratan yang menyatu dengan Asia ini berangsur-angsur mengalami penurunan dan membentuk kepulauan Jepang seperti sekarang ini.

Jepang yang memiliki ¾ kawasan pegunungan atau + 70% dari keseluruhan daratan memiliki empat musim yang berbeda. Empat musim tersebut adalah musim semi/haru (Maret – Mei), panas/natsu (Juni – Agustus), dingin/fuyu (September – Nopember), gugur/aki (Desember – Februari). Meski perubahan-perubahan iklim & cuaca sangat dinantikan masyarakat Jepang, ternyata Jepang sangat rawan terjadi gempa bumi dan bencana alam akibat letak geografisnya yang dipenuhi dengan pegunungan dan bukit-bukit.
Penghuni Jepang sendiri berasal dari beberapa negara yang bersinggah dan melakukan jual beli. Banyak pihak yang berpendapat berbeda akan hal ini. Masyarakat awam cenderung beranggapan bahwa suku Ainu lah sebagai penduduk pertama Jepang. Namun, pendapat tersebut belum dapat dibenarkan. Pendapat lain juga menyebutkan bahwa penduduk asli atau nenek moyang Jepang adalah yang memiliki kebudayaan Jōmon. Hal ini dikarenakan telah ditemukannya fosil dari hasil kebudayaan Jōmon. Ada pendapat lain yang menyebutkan, dan terkenal dengan sebutan Teori Selatan-Utara bahwa nenek moyang Jepang yang asli berasal dari daratan Asia yang tinggal dan menamakan dirinya sebagai Kikajin yang berawal pada jaman Yayoi.
Teori Selatan menyebutkan bahwa nenek moyang Jepang berasal dari Asia Tenggara seperti Tibet, Taiwan, Kepulauan Pasifik Barat Daya, Melayu, dan bahkan Indonesia.
Teori ini dapat dibenarkan dengan adanya penemuan tentang cara bercocok tanam yang dilakukan oleh nenek moyangnya dengan cara membuat sawah.
Teori Utara menyebutkan lain. Di sini disebutkan bahwa nenek moyang Jepang berasal dari pusat daratan Asia seperti Mongol, Manchuria, Siberia, dan Turki. Teori juga dapat dibenarkan karena tata bahasa yang digunakan dalam keseharian msyarakat Jepang sesuai dengan susunan bahasa Korea, Ural, Turki, dan sebagainya.

Zaman di Jepang
Pada dasarnya, Jepang memiliki banyak jaman sesuai dengan perubahan masa dan kekuasaan. Namun, secara garis besar Jepang dibagi menjadi 5 periode. Periode tersebut meliputi

1. Abad kuno atau disebut dengan ‘Kodai’. Periode ini meliputi zaman primitif / Genshi Jidai (abad ke-3), zaman Yamato (592), zaman Nara (710), dan zaman Hei An (794-1192)

2. Abad pertengahan atau disebut dengan ‘Chuusei’ yang meliputi zaman Kamakura (1192-1333), zaman Muromachi (1334-1573), dan zaman Azuchi Momoyama (1573-1603)

3. Abad pra modern atau ‘Kinsei’ yang dimulai dengan zaman Edo (1603-1868)

4. Abad modern atau ’Kindai’. Pada periode Jepang banyak mengalami perubahan dan mulai dikenal dunia luar. Zaman yan sering dibicarakan ini dikenal dengan zaman Meiji (1868-1912)

5. Dewasa ini atau lebih dikenal dengan ‘Gendai’. Periode ini meliputi zaman Taisho (1912-1926), zaman Showa (1926-1991), dan zaman Heisei (1991-sekarang?)

Dalam perputaran tiap zaman, Jepang juga mengalami perubahan kebudayaan. Namun, perubahan yang paling besar (meliputi social dan politik) adalah saat terjadinya ‘Restorasi Meiji’. Pada saat itu, Jepang dipaksa untuk kembali membuka diri untuk negara luar.

From: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1870473-sejarah-jepang/

Suku Ainu

Suku Ainu
AinuGroup.JPG

Jumlah populasi
Pada tahun 2004:
  • 50.000 jiwa memiliki lebih dari 50% keturunan Ainu
  • 150.000 penduduk Jepang memiliki sedikit keturunan Ainu
    • (beberapa memperkirakan bahwa jumlah orang Jepang yang memiliki beberapa kadar darah Ainu bisa mencapai 1.000.000; namun jumlah yang benar tidak diketahui secara persis)
  • Era Pra-Jepang: ~50.000, hampir semuanya Ainu totok.
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
Jepang
Rusia.
Bahasa
bahasa Jepang, bahasa Ainu dan bahasa Rusia.
Agama
animisme.
Kelompok etnis terdekat
Ilmu genetika modern membuktikan bahwa suku Ainu termasuk ras Asia Timur. Mereka biasanya dikelompokkam dengan suku-sukubangsa non-Tungusik dari Sakhalin, lembah sungai Amur, dan semenanjung Kamchatka:
Museum dan pusat promosi suku Ainu di Sapporo

Suku Ainu (アイヌ?) IPA: [ʔáinu] (juga disebut Ezo dalam teks-teks sejarah) adalah sebuah kelompok etnis pribumi di Hokkaidō, Kepulauan Kuril, dan sebagian besar Sakhalin. Diduga ada lebih dari 150.000 orang Ainu saat ini; namun jumlahnya yang pasti tidak diketahui karena banyak orang Ainu yang menyembunyikan asal-usul mereka karena masalah etnis di Jepang. Seringkali orang Ainu yang masih hidup pun tidak menyadari garis keturunan mereka, karena orang tua dan kakek-nenek mereka merahasiakannya untuk melindungi anak-anak mereka dari masalah sosial.
Etnonim mereka yang paling terkenal berasal dari kata aynu, yang berarti "manusia" (dibedakan dengan kamuy, makhluk ilahi) dalam dialek Hokkaidō dari bahasa Ainu; Emishi, Ezo atau Yezo (蝦夷) adalah istilah-istilah bahasa Jepang, yang diyakini berasal dari bentuk leluhur kata Ainu Sakhalin modern enciw atau enju, yang juga berarti "manusia". Istilah Utari (ウタリ?) (artinya "kamerad" dalam bahasa Ainu) kini lebih disukai oleh sejumlah anggota kelompok minoritas ini.
Suku Ainu lama dipaksa oleh pemerintah Jepang untuk berasimiliasi dengan orang Jepang (suku Yamato). Pemerintah mengesahkan undang-undang pada tahun 1899 yang menyatakan bahwa suku Ainu adalah "bekas pribumi" (disebut "bekas" karena suku Ainu dimaksud akan berasimilasi). Pada 6 Juni 2008 parlemen Jepang mengesahkan resolusi yang mengakui bahwa suku Ainu adalah "suku pribumi dengan bahasa, kepercayaan, dan kebudayaan yang berbeda" sekaligus membatalkan undang-undang tahun 1899 tersebut.

Asal-usul

Asal-usul suku Ainu belum sepenuhnya diketahui. Mereka seringkali dianggap Jōmon-jin, penduduk asli Jepang dari periode Jōmon. Penelitian DNA mutakhir mengatakan bahwa mereka adalah keturunan dari suku Jomon kuno di Jepang. "Suku Ainu yang tinggal di tempat ini seratus ribu tahun sebelum Anak-anak Matahari datang" dikisahkan dalam salah satu dari Yukar Upopo (legenda Ainu) mereka.
Budaya Ainu berasal dari sekitar 1200 M dan penelitian mutakhir berpendapat bahwa hal ini berasal dalam penggabungan budaya Okhotsk dan Satsumon. Ekonomi mereka didasarkan pada pertanian maupun berburu, menangkap ikan dan mengumpul.
Laki-laki Ainu umumnya memiliki rambut yang lebat. Banyak peneliti awal menduga bahwa mereka keturunan Kaukasus, meskipun uji DNA mutakhir tidak menemukan garis keturunan Kaukasus. Uji genetik suku Ainu membuktikan bahwa mereka tergolong terutama kepada grup haplo-Y D.
Satu-satunya tempat di luar Jepang di mana grup haplo-Y D lazim ditemukan adalah Tibet dan Kepulauan Andaman di Samudra Hindia. Dalam sebuah studi oleh Tajima et al. (2004), dua dari 16 sampel (atau 12,5%) laki-laki Ainu ditemukan tergolong dalam grup haplo C3, yaitu grup haplo dengan kromosom Y yang paling umum di antara penduduk-penduduk pribumi di Rusia Timur Jauh dan Mongolia; Hammer et al. (2006) menguji empat sampel lagi dari laki-laki Ainu dan menemukan bahwa salah satunya tergolong ke dalam grup haplo C3.
Beberapa penelitia berspekulasi bahwa pembawa grup haplo C3 yang minoritas di antara suku Ainu ini mungkin mencerminkan suatu tingka tertentu dari pengaruh genetik satu arah dari suku Nivkh, yang dengannya suku Ainu telah lama memiliki interaksi budaya. Menurut Tanaka et al. (2004), garis mtDNA mereka umumnya terdiri dari grup haplo Y (21,6%) dan grup haplo M7a (15,7%). Evaluasi kembali belakangan ini tentang ciri-ciri tulang tengkorak mereka menunjukkan bahwa suku Ainu lebih mirip dengan suku Okhotsk daripada dengan suku Jōmon. Hal ini sesuai dengan rujukan kepada budaya Ainu sebagai gabungan dari budaya Okhotsk dan Satsumon yang dirujuk di atas.

Zaman Sengoku

Sejarah Jepang
Sengoku period battle.jpg
Battle of Kawanakajima in 1561

Zaman Sengoku (戦国時代 sengoku jidai?, zaman negara-negara berperang) (sekitar 1493 - sekitar 1573) adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang yang dimulai sekitar tahun 1493 Peristiwa Meiōnoseihen (pergolakan di dalam klan Ashikaga untuk menentukan pewaris jabatan shogun) sampai shogun ke-15 Ashikaga Yoshiaki ditaklukkan oleh Oda Nobunaga yang menandai akhir zaman Muromachi dan mengawali zaman Azuchi Momoyama. Zaman Sengoku adalah akhir dari zaman Muromachi. Ada juga pendapat yang mengatakan zaman Azuchi Momoyama atau disebut juga zaman Shokuhō (織豊時代 shokuhō jidai?, zaman Oda Nobunaga-Toyotomi Hideyoshi) sudah dimulai sejak Oda Nobunaga mulai bertugas di Kyoto sebagai pengikut Ashikaga Yoshiaki.

Hikayat Genji (源氏物語, Genji Monogatari)

Hikayat Genji

Ilustrasi dari Hikayat Genji bab 20: Asagao (ilustrasi oleh Tosa Mitsuoki)
Hikayat Genji (源氏物語 Genji Monogatari?) atau Kisah Genji adalah karya sastra klasik Jepang berbentuk novel yang ditulis Murasaki Shikibu di pertengahan zaman Heian. Hikayat ini disebut-sebut dalam buku sejarah terbitan tahun 1001, namun penulisannya dianggap belum selesai pada tahun tersebut.
Berdasarkan jumlah bab, isi, dan pencapaian di bidang sastra Jepang, Genji Monogatari merupakan salah satu karya terbesar mengenai keluarga kekaisaran di Jepang, sekaligus karya novel terbesar dalam kesusastraan Jepang.


Judul

Judul asli Genji Monogatari tidak diketahui hingga sekarang, karena naskah hasil salinan sering tidak mencantumkan judul. Walaupun mencantumkan judul, pada naskah sering digunakan judul yang berbeda-beda. Hikayat Genji kemungkinan besar tidak memiliki judul yang khusus, dan ada kemungkinan tokoh Murasaki no Ue dijadikan judul cerita.
Secara garis besar, ada dua cara penyebutan judul untuk Hikayat Genji pada naskah hasil salinan di zaman kuno atau naskah cerita yang dilengkapi anotasi:
  • Judul dengan kata "Genji": Genji Monogatari, Hikaru Genji no Monogatari, Hikaru Genji, Genji, atau Genji no Kimi
  • Judul dengan kata "Murasaki": Murasaki no Monogatari atau Murasaki no Yukari no Monogatari.

Pengarang

Pengarang Hikayat Genji adalah Murasaki Shikibu, seorang wanita sastrawan yang bekerja untuk Fujiwara no Shōshi (putri Fujiwara no Michinaga yang menjadi permaisuri pertama dari Kaisar Ichijō).

Isi

Hikayat Genji merupakan cerita yang sangat panjang dan terdiri dari 54 bab. Isinya mengenai kisah seputar istana kekaisaran yang terdiri dari 800 waka.
Cerita Hikayat Genji secara garis besar terdiri dari 3 bagian:
  • Bagian I: kelahiran tokoh utama sebagai seorang pangeran (putra kaisar) yang menjadi warga biasa dan diberi nama kehormatan Genji, dan dikenal dengan nama Hikaru Genji. Setelah dewasa, Hikaru Genji dikelilingi banyak wanita.
  • Bagian II: kerumitan kisah cinta Hikaru Genji.
  • Bagian III: kisah anak cucu Hikaru Genji setelah ia tutup usia.

Nama bab

Bab Judul Judul dalam romaji Isi
 1 桐壺 Kiritsubo Kelahiran Genji hingga usia 12 tahun
 2 帚木 Hahakigi Genji usia 17 tahun, musim panas
 3 空蝉 Utsusemi Genji usia 17 tahun, musim panas
 4 夕顔 Yūgao Genji usia 17 tahun, musim gugur hingga musim dingin
 5 若紫 Wakamurasaki Genji usia 18 tahun
 6 末摘花 Suetsumuhana Genji usia 18 tahun (musim semi) - 19 tahun (musim semi)
 7 紅葉賀 Momiji no ga Genji usia 18 tahun (musim gugur) - 19 tahun (musim gugur)
 8 花宴 Hana no en Genji usia 20 tahun, musim semi
 9 葵 Aoi Genji usia 22-23 tahun, musim semi
10 賢木 Sakaki Genji usia 23 tahun (musim gugur) - 25 tahun (musim panas)
11 花散里 Hanachirusato Genji usia 25 tahun (musim panas)
12 須磨 Suma Genji usia 26 tahun (musim semi) - 27 tahun (musim semi)
13 明石 Akashi Genji usia 27 tahun (musim semi) - 28 tahun (musim gugur)
14 澪標 Miotsukushi Genji usia 28 tahun (musim dingin) - 29 tahun
15 蓬生 Yomogiu Genji usia 28-29 tahun
16 関屋 Sekiya Genji usia 29 tahun, musim gugur
17 絵合 E-Awase Genji usia 31 tahun, musim semi
18 松風 Matsukaze Genji usia 31 tahun, musim gugur
19 薄雲 Usugumo Genji usia 31 tahun, musim dingin - 32 tahun, musim gugur
20 朝顔(槿) Asagao Genji usia 32 tahun, musim gugur - musim dingin
21 少女 Otome Genji usia 33-35 tahun
22 玉鬘 Tamakazura Genji usia 35 tahun
23 初音 Hatsune Genji usia 36 tahun, Tahun Baru
24 胡蝶 Kochō Genji usia 36 tahun, musim semi - musim panas
25 螢 Hotaru Genji usia 36 tahun, musim panas
26 常夏 Tokonatsu Genji usia 36 tahun, musim panas
27 篝火 Kagaribi Genji usia 36 tahun, musim gugur
28 野分 Nowaki Genji usia 36 tahun, musim gugur
29 行幸 Miyuki Genji usia 36 tahun (musim gugur) - 37 tahun (musim semi)
30 藤袴 Fujibakama Genji usia 37 tahun, musim gugur
31 真木柱 Makibashira Genji usia 37 tahun (musim dingin) - 38 tahun (musim dingin)
32 梅枝 Umegae Genji usia 39 tahun, musim semi
33 藤裏葉 Fuji no Uraba Genji usia 39 tahun, musim semi - musim dingin
34 34 若菜 上 Wakana Bagian I Genji usia 39 tahun, musim dingin - 41 tahun, musim semi
35 下 Bagian II Genji usia 41 tahun, musim semi - 47 tahun musim dingin
35 36 柏木 Kashiwagi Genji usia 48 tahun, Tahun Baru - musim gugur
36 37 横笛 Yokobue Genji usia 49 tahun
37 38 鈴虫 Suzumushi Genji usia 50 tahun, musim panas - musim gugur
38 39 夕霧 Yūgiri Genji usia 50 tahun, musim gugur - musim dingin
39 40 御法 Minori Genji usia 51 tahun
40 41 幻 Maboroshi Setahun ketika Genji berusia 52 tahun
41 - 雲隠 Kumo ga kure Isinya disengaja kosong, secara implisit menyatakan bahwa Genji sudah meninggal
42 匂宮
匂兵部卿
Niō no miya
Niō Hyōbukyō
Kaoru berusia 14 tahun - 20 tahun
43 紅梅 Kōbai Kaoru usia 24 tahun, musim semi
44 竹河 Takekawa Kaoru, usia 14 tahun 6 bulan - 23 tahun
45 橋姫 Hashihime Kaoru usia 20 tahun - 22 tahun
46 椎本 Shīgamoto Kaoru usia 23 tahun, musim semi - 24 tahun, musim panas
47 総角 Agemaki Kaoru usia 24 tahun, musim gugur - musim dingin
48 早蕨 Sawarabi Kaoru usia 25 tahun, musim semi
49 宿木 Yadorigi Kaoru berusia 25 tahun, musim semi - 26 tahun, musim panas
50 東屋 Azumaya Kaoru berusia 26 tahun, musim gugur
51 浮舟 Ukifune Kaoru berusia 27 tahun, musim semi
52 蜻蛉 Kagerō Kaoru berusia 27 tahun
53 手習 Tenarai Kaoru usia 27 tahun - 28 tahun, musim panas
54 夢浮橋 Yume no Ukihashi Kaoru usia 28 tahun

Tokoh-tokoh utama

  • Hikaru Genji (光源氏?)
Tokoh sentral dalam bagian pertama dan kedua. Hikaru Genji tidak berhak atas tahta karena lahir sebagai pangeran kedua dari pasangan Kaisar Kiritsubo dan Kiritsubo no Koi. Setelah menjadi warga biasa, kaisar memberikan nama keluarga Genji, dan Hikaru Genji sempat mengurung diri di Suma. Setelah pulih, Hikaru Genji diangkat sebagai Kaisar Jundaijō yang berkedudukan bagaikan kaisar yang sudah pensiun, walaupun tidak pernah naik tahta sebagai kaisar. Kedudukan ini membuat Hikaru Genji mendapat sebutan Rokujō-in. Dalam naskah asli, Hikaru Genji hanya dipanggil dengan nama gelarnya saja, yakni Kimi atau In. Istrinya bernama Aoi no Ue (Putri Aoi) dan Onna Sannomiya (Putri ke-3 dari Kaisar Suzaku), tapi istri sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari adalah Murasaki no Ue (Putri Murasaki). Anaknya bernama Yugiri (dari Aoi no Ue), Kaisar Reizei (anak dari selir ayahnya, Putri Fujitsubo tapi diakui di muka umum sebagai anak ayahnya), Putri Akashi (lahir dari ibu bernama Akashi no Onkata, nantinya menjadi selir dari Kinjō-tei). Selain itu, Genji memiliki 3 anak angkat: Akikonomu Chūgū (nama lain: Umetsubo no Nyōgo, putri dari Rokujō no Miyasudokoro), Tamakazura (anak perempuan dari Tōnochūjō dengan ibu bernama Yugao), dan Kaoru yang diakui sebagai anaknya sendiri walaupun sebenarnya anak dari pasangan Kashiwagi dan Onna Sannomiya).
  • Kaisar Kiritsubo (桐壺帝 Kiritsubo-tei, atau Kiritsubo no Mikado?)
Ayah Hikaru Genji. Selain Genji, anak-anak yang lain bernama: Kaisar Suzaku (Suzakutei, atau nantinya disebut Suzaku-in), Hotaru Hyōbukyō no Miya, Hachi no Miya, dan sebagainya.
  • Kiritsubo no Kōi (桐壺更衣?)
Ibu Hikaru Genji, selir (Kōi) dari Kaisar Kiritsubo, wafat ketika Genji berusia 3 tahun.
  • Fujitsubo (藤壺?) atau Fujitsubo Chūgū (Putri Fujitsubo)
Ibu tiri sekaligus kekasih Hikaru Genji hingga melahirkan anak yang nantinya menjadi Kaisar Reizei. Fujitsubo bagaikan pinang dibelah dua dengan ibu kandung Genji (Kiritsubo no Kōi)
  • Aoi no Ue (葵の上?)
Putri pejabat Sadaijin yang menjadi istri pertama Hikaru Genji. Ibunya yang bernama Ōmiya adalah saudara kandung Kaisar Kiritsubo, sehingga masih sepupu dengan Hikaru Genji. Aoi no Ue berusia lebih tua dari Genji, dan kehidupan rumah tangga mereka tidak harmonis. Aoi no Ue meninggal ketika melahirkan Yugiri. Dengan kekasih Genji yang bernama Rokujō no Miyasudokoro, Aoi no Ue bertengkar soal tempat untuk menonton matsuri dan dikutuk olehnya hingga meninggal.
  • Tōnochūjō (頭中将?) atau Naidaijin
Kakak dari Aoi no Ue (kakak ipar Hikaru Genji) yang menjadi sahabat Genji sekaligus saingannya. Ayahnya adalah pejabat Sadaijin. Dalam mengejar karier dan cinta, Tōnochūjō selalu tertinggal dari Genji. Anaknya bernama Kashiwagi, Kumoi no Kari (istri dari Yugiri), Kokiden no Nyōgo (selir Kaisar Reizei), Tamakazura (istri dari Higekuro Taishō, anak dari Tōnochūjō dengan Yūgao), Ōmi no Kimi, dan sebagainya. Satu-satunya tokoh utama dalam Hikayat Genji yang penyebutan namanya tidak konsisten.
  • Rokujō no Miyasudokoro (六条御息所?)
Istri dari mantan putra mahkota dari Kaisar Kiritsubo (kakak laki-laki tertua Kaisar Kiritsubo). Kekasih Genji dan sangat mencintai Genji, namun kasihnya tidak terbalas. Rokujō no Miyasudokoro mengutuk Aoi no Ue (istri Genji) hingga meninggal. Putri dari Rokujō no Miyasudokoro yang bernama Ise Saigū, nantinya menjadi anak angkat Genji, dan berganti nama menjadi Akikonomu Chūgū setelah menjadi selir Kaisar Reizei.
  • Murasaki no Ue (紫の上?)
Keponakan dari Fujitsubo Chūgū, putri dari Hyōbū no Miya. Murasaki no Ue masih kecil sewaktu Genji bertemu dengannya, dan dibesarkan oleh Genji sebagai anak angkat. Setelah istri Genji (Aoi no Ue) meninggal, Genji memperistri Murasaki no Ue. Bersama Murasaki no Ue, Genji tidak dikaruniai anak, sehingga mereka menjadikan Akashi no Chūgū sebagai anak angkat. Di masa tua Genji, kedudukan Murasaki no Ue tergeser oleh Onna Sannomiya.
  • Akashi no Onkata (明石の御方?)
Anak perempuan dari biksu bernama Akashi no Nyūdō. Wanita simpanan Genji sewaktu ia harus tinggal di Suma. Dari keduanya lahir anak perempuan bernama Akashi no Chūgū yang dijadikan anak angkat Genji dan Murasaki no Ue.
  • Onna Sannomiya (女三宮?)
Putri ke-3 Kaisar Suzaku, keponakan Hikaru Genji sekaligus keponakan Fujitsubo Chūgū. Ketika Genji sudah tua, Onna Sannomiya menjadi istri pengganti Aoi no Ue. Onna Sannomiya berhubungan gelap dengan Kashiwagi (putra sulung Tōnochūjō) hingga melahirkan Kaoru.
  • Kashiwagi (柏木?)
Putra sulung Tōnochūjō (Naidaijin) yang ingin menikah dengan Onna Sannomiya tapi tidak terlaksana. Kashiwagi diketahui berselingkuh dengan Onna Sannomiya hingga Genji menjadi sangat marah. Kashiwagi sangat sedih hingga jatuh sakit dan meninggal.
  • Yugiri (夕霧?)
Putra sulung Genji dengan Aoi no Ue. Setelah ibunya meninggal, Yugiri dibesarkan keluarga ibunya. Yugiri dibesarkan oleh kekasih Genji yang bernama Hanachiru Sato. Ketika masih kecil, Yugiri jatuh cinta dengan Kumoi no Kari (putri Tōnochūjō yang berusia 2 tahun lebih tua), dan menikahinya setelah dewasa. Setelah Kashiwagi meninggal, Yugiri jatuh cinta dengan janda Kashiwagi yang bernama Suzaku-in no Onna Ninomiya (Ochiba no Miya) dan memperistrinya secara paksa.
  • Kaoru (薫?)
Tokoh utama dalam cerita bagian ketiga. Anak laki-laki dari Genji dan Onna Sannomiya, walaupun ayah sebenarnya adalah Kashiwagi. Kaoru memiliki aroma tubuh yang harum sehingga dipanggil "Kaoru" (si harum). Kaoru memiliki banyak sekali kekasih di mana-mana, termasuk dengan Ukifune.
  • Niōmiya atau Niō no Miya (匂宮?)
Seorang pangeran, putra dari Kinjō-tei. Ibunya adalah Akashi no Chūgū. Sebagai pangeran ketiga, pekerjaannya hanya bermain-main saja. Selalu bersaing dengan Kaoru, tapi perlu menggunakan dupa sebagai pewangi pakaian agar bisa menandingi keharuman aroma tubuh Kaoru.
  • Ukifune (浮舟?)
Wanita yang direbutkan antara Kaoru dan Niōmiya. Ukifune mencoba bunuh diri di sungai karena dicintai dua orang lelaki, namun nyawanya ditolong seorang biksu.

Sejarah Jepang (Dari Jaman Ke Jaman)



Dokumen tertua mengenai sejarah Jepang adalah kumpulan naskah sejarah Cina Sejarah Dua Puluh Empat Dinasti asal abad ke-1 Masehi. Namun bukti-bukti menunjukkan kepulauan Jepang sudah dihuni manusia sejak zaman Paleolitik Atas Setelah zaman es terakhir sekitar 12.000 SM, ekosistem Kepulauan Jepang yang kaya memungkinkan manusia untuk hidup. Barang-barang tembikar tertua berasal dari zaman Jōmon.

Zaman prasejarah Jepang

Zaman Paleolitik

Kapak batu yang diekskavasi dari situs B Hinatabayashi, Shinano, Prefektur Nagano dari zaman Pra-Jōmon (Paleolitik), 30.000 SM. Museum Nasional Tokyo.

Zaman Paleolitik Jepang berlangsung dari sekitar 100.000 hingga 30.000 SM, dimulai dari penggunaan perkakas batu dan berakhir sekitar 12.000 SM pada akhir zaman es terakhir yang sekaligus awal dari periode Mesolitik zaman Jōmon. Bukti-bukti penggalian arkeologi menunjukkan kepulauan Jepang sudah dihuni orang sejak 35.000 SM. Kepulauan Jepang terpisah dari daratan Asia setelah zaman es terakhir sekitar 11.000 SM. Setelah terungkapnya pengelabuan zaman Paleolitik Jepang oleh peneliti amatir Shinichi Fujimura, bukti-bukti asal zaman Paleolitik Bawah dan zaman Paleolitik Tengah yang diklaim oleh Fujimura dan rekan-rekan telah diteliti ulang dan ditolak.

Zaman Jōmon

Sebuah bejana dari zaman Jōmon Pertengahan (3000-2000 SM).

Zaman Jōmon berlangsung dari sekitar 14.000 SM hingga 300 SM. Tanda-tanda pertama peradaban dan pola hidup stabil manusia muncul sekitar 14.000 SM dengan adanya kebudayaan Jōmon yang bercirikan bercirikan gaya hidup pemburu-pengumpul semi-sedenter Mesolitik hingga Neolitik. Mereka tinggal di rumah-rumah yang dibangun di atas tanah yang digali dan di atasnya didirikan rumah beratap dari kayu. Orang zaman Jōmon sudah mengenal bentuk awal dari pertanian, namun belum mengenal cara menenun kain dan pakaian dibuat dari bulu binatang. Orang zaman Jōmon mulai membuat bejana tanah liat yang dihias dengan pola-pola yang dicetakkan ke atas permukaan bejana sewaktu masih basah dengan menggunakan tongkat kayu atau tali atau simpul tali. Walaupun hasil penelitian menimbulkan keragu-raguan, menurut tes penanggalan radiokarbon, beberapa contoh tembikar tertua di dunia berasal dari Jepang, disertai pisau belati, giok, sisir dari kulit kerang, dan barang-barang keperluan rumah tangga lainnya berasal dari abad ke-11 SM.  Boneka tanah liat yang disebut dogū juga ditemukan dari situs ekskavasi. Barang-barang rumah tangga menunjukkan kemungkinan ada rute perdagangan yang jauhnya sampai ke Okinawa. Analisis DNA menunjukkan bahwa penduduk asli Hokkaido dan bagian utara Pulau Honshu yang disebut suku Ainu adalah keturunan orang zaman Jōmon dan merupakan keturunan dari manusia pertama penghuni Jepang.


Zaman Yayoi

Dōtaku dari zaman Yayoi, abad 3 M.
Zaman Yayoi berlangsung dari sekitar 400 SM atau 300 SM hingga 250 Masehi. Dari situs arkeologi kota Yayoi, distrik Bunkyō, Tokyo ditemukan artefak asal zaman yang kemudian disebut zaman Yayoi.
Pada awal zaman Yayoi, orang Yayoi sudah mulai dapat menenun, bertanam padi, mengenal perdukunan serta pembuatan perkakas dari besi dan perunggu yang dipelajari dari Korea atau Cina. Sejumlah studi paleoetnobotani menunjukkan teknik menanam padi di sawah dan irigasi sudah dikenal sejak sekitar 8000 SM di Delta Sungai Yangtze dan menyebar ke Jepang sekitar 1000 SM.
Dokumen tertulis yang pertama kali menyebut Jepang adalah Buku Han Akhir asal 57 Masehi. Buku tersebut mengisahkan, "Di seberang lautan dari Distrik Lelang tinggal orang-orang Wa. Mereka ada lebih dari dari 100 suku, mereka sering datang dan membayar upeti." Catatan Sejarah Tiga Negara dari abad ke-3 mencantumkan negara yang terbentuk dari kumpulan 30 suku-suku kecil yang diperintah oleh dukun wanita bernama Himiko dari Yamataikoku.
Semasa Dinasti Han dan Dinasti Wei, pengelana Cina tiba di Kyushu dan mencatat tentang para penduduk yang tinggal di sana. Menurut para pengelana Cina, mereka adalah keturunan dari Paman Agung (Tàibó) dari negara Wu. Penduduk di sana juga menunjukkan ciri-ciri orang Wu pra-Cina yang mengenal tato, tradisi mencabut gigi, dan menggendong bayi. Buku Sanguo Zhi mencatat ciri-ciri fisik yang mirip dengan ciri-ciri fisik orang yang digambarkan dalam boneka haniwa. Laki-laki berambut panjang yang dikepang, tubuh dihiasi tato, dan perempuan mengenakan pakaian terusan berukuran besar.
Situs Yoshinogari adalah situs arkeologi terbesar untuk peninggalan orang zaman Yayoi yang mengungkap adanya permukiman di Kyushu yang sudah didiami orang secara terus menerus selama ratusan tahun. Hasil ekskavasi menunjukkan artefak tertua berasal dari sekitar 400 SM. Di antara artefak yang ditemukan terdapat perkakas besi dan perunggu, termasuk perkakas dari Korea dan Cina. Dari barang-barang peninggalan diperkirakan orang zaman Yayoi sudah sering melakukan kontak dan berdagang dengan orang dari Daratan Cina.

Zaman kuno dan zaman klasik Jepang

Zaman Kofun

Helm besi dan baju besi dengan hiasan berkilat dari perunggu (zaman Kofun, abad ke-5). Koleksi Museum Nasional Tokyo.
Zaman Kofun dimulai sekitar 250 M. Nama zaman ini berasal dari tradisi orang zaman itu untuk membuat gundukan makam (tumulus) yang disebut kofun. Pada zaman ini sudah terdapat negara-negara militer yang kuat dengan klan-klan berpengaruh sebagai penguasa. Salah satu di antaranya terdapat negara Yamato yang dominan, dan berpusat di Provinsi Yamato dan Provinsi Kawachi. Negara Yamato berlangsung dari abad ke-3 hingga abad ke-7, dan merupakan asal garis keturunan kekaisaran Jepang. Negara Yamato yang berkuasa atas klan-klan lain dan memperoleh lahan-lahan pertanian mempertahankan pengaruh yang kuat di Jepang bagian barat. Jepang mulai mengirimkan utusan ke Kekaisaran Cina pada abad ke-5. Dalam dokumen sejarah Cina ditulis tentang negara Wa yang memiliki lima raja. Sistem pemerintahan di Wa meniru model Cina yang menerapkan sistem administrasi terpusat. Sistem kekaisaran juga mengambil model dari Cina, dan masyarakat dibagi menjadi strata berdasarkan profesi.
Hubungan yang erat antara Jepang dengan Tiga Kerajaan Korea dimulai pertengahan zaman Kofun, sekitar akhir abad ke-4.

Zaman Asuka

Lukisan dinding di Makam Takamatsuzuka, Asuka, Nara, abad ke-8
Pada zaman Asuka (538-710), negara Jepang purba Yamato secara bertahap menjadi negara yang tersentralisasi. Negara Jepang purba sudah memiliki undang-undang seperti dinyatakan dalam Undang-Undang Taihō dan butir-butir Reformasi Taika.Masuknya agama Buddha di Jepang mengakibatkan orang tidak lagi membuat makam berbentuk kofun.
Agama Buddha masuk ke Jepang sekitar tahun 538 melalui Baekje yang mendapat dukungan militer dari Jepang.[12] Penyebaran agama Buddha di Jepang dilakukan oleh kalangan penguasa. Pangeran Shōtoku mendedikasikan dirinya dalam penyebaran Buddhisme dan kebudayaan Cina di Jepang. Ia berjasa menyusun Konstitusi 17 Pasal yang membawa perdamaian di Jepang. Konstitusi yang disusunnya dipengaruhi oleh pemikiran Konfusianisme tentang berbagai moral dan kebajikan yang diharapkan masyarakat dari pejabat pemerintah dan abdi kaisar.
Dalam sepucuk surat yang disampaikan duta Kekaisaran Jepang ke Kekaisaran Cina pada tahun 607 ditulis kata-kata, "Kaisar negeri matahari terbit (Jepang) mengirimkan surat kepada kaisar di negeri matahari terbenam (Cina)". Surat tersebut menyebabkan kemarahan kaisar Cina.
Dimulai dengan Perintah Reformasi Taika tahun 645, Jepang semakin giat mengadopsi praktik-praktik budaya Cina, melakukan reorganisasi pemerintahan, serta menyusun undang-undang pidana (Ritsuryō) dengan mengikuti struktur administrasi Cina pada waktu itu. Istilah Nihon (日本) juga mulai dipakai sebagai nama negara sejak zaman Asuka.

Zaman Nara

Daibutsu di Nara. Buddharupang berukuran besar asl tahun 752 M.
Zaman Nara pada abad ke-8 ditandai oleh negara Jepang yang kuat. Pada tahun 710, Kaisar Gemmei mengeluarkan perintah kekaisaran yang memindahkan ibu kota ke Heijō-kyō yang sekarang bernama Nara. Heijō-kyō dibangun dengan mencontoh ibu kota Dinasti Tang di Chang'an (sekarang disebut Xi'an).
Sepanjang zaman Nara, perkembangan politik sangat terbatas. Anggota keluarga kekaisaran berebut kekuasaan dengan biksu dan bangsawan, termasuk dengan klan Fujiwara. Hubungan luar negeri berlangsung dengan Silla dan hubungan formal dengan Dinasti Tang. Pada 784, ibu kota dipindahkan ke Nagaoka-kyō untuk menjauhkan istana dari pengaruh para biksu, sebelum akhirnya dipindahkan ke Heian-kyō (Kyoto).
Penulisan sejarah Jepang berpuncak pada awal abad ke-8 dengan selesainya penyusunan kronik Kojiki (712) dan Nihon Shoki (720). Dalam kedua buku sejarah tersebut dikisahkan sejarah Jepang mulai dari awal sejak zaman mitologi Jepang. Di dalamnya ditulis tentang pendirian Jepang pada tahun 660 SM oleh Kaisar Jimmu yang keturunan langsung dari Amaterasu. Menurut kedua kronik tersebut Kaisar Jimmu merupakan leluhur dari garis keturunan kaisar yang sekarang. Kaisar Jimmu sering dianggap sebagai kaisar mitos karena kaisar pertama berdasarkan bukti-bukti sejarah adalah Kaisar Ōjin yang tahun-tahun masa pemerintahannya tidak diketahui dengan jelas. Sejak zaman Nara, kekuasaan politik tidak selalu berada di tangan kaisar, melainkan di tangan bangsawan istana, shogun, militer, dan sekarang di tangan perdana menteri.


Zaman Heian

Lukisan gulung dari tahun 1130, ilustrasi Hikayat Genji bab "Sungai Bambu".

Periode akhir sejarah klasik Jepang berlangsung dari 794 hingga 1185 yang disebut zaman Heian. Puncak kejayaan istana kekaisaran di bidang puisi dan sastra terjadi pada zaman Heian. Pada awal abad ke-11, Murasaki Shikibu menulis novel Hikayat Genji yang hingga kini merupakan salah satu dari novel tertua di dunia. Pada zaman Heian selesai disusun naskah tertua koleksi puisi Jepang, Man'yōshū dan Kokin Wakashū.
Pada zaman Heian berkembang berbagai macam kebudayaan lokal, misalnya aksara kana yang asli Jepang. Pengaruh budaya Cina surut setelah sampai di puncak keemasan. Pengiriman terakhir utusan Jepang ke Dinasti Tang berlangsung pada tahun 838 sejalan dengan kemunduran Dinasti Tang. Walaupun demikian, Cina dalam terus berlanjut sebagai negara tujuan ekspedisi dagang dan rombongan peziarah agama Buddha.
Kekuasaan politik istana kekaisaran berada di tangan segelintir keluarga bangsawan yang disebut kuge, khususnya klan Fujiwara yang berkuasa dengan gelar Sesshō and Kampaku.
Pada akhir zaman Heian bermunculan berbagai klan samurai. Empat klan samurai yang paling kuat adalah klan Minamoto, klan Taira, klan Fujiwara, dan klan Tachibana. Memasuki akhir abad ke-12, konflik antarklan berubah menjadi berbagai perang saudara seperti Pemberontakan Hōgen dan Pemberontakan Heiji. Setelah berakhirnya Perang Genpei, Jepang berada di bawah pemerintahan militer oleh klan-klan samurai di bawah pimpinan seorang shogun.

Zaman feodal

Dalam sejarah Jepang, zaman feodal dibagi menjadi dua bagian. Paruh pertama disebut abad pertengahan (chūsei) dari zaman Kamakura hingga zaman Muromachi, sementara paruh kedua disebut abad modern (kinsei) dari zaman Azuchi-Momoyama hingga zaman Edo.
Zaman feodal di Jepang berlangsung dari abad ke-12 hingga abad ke-19, ditandai oleh pemerintahan daerah oleh keluarga-keluarga daimyo di bawah kendali pemerintahan militer keshogunan. Kaisar hanya berperan sebagai kepala negara de jure sementara kekuasaan berada di tangan shogun.

Zaman Kamakura

Keshogunan Kamakura berkuasa di Jepang dari tahun 1185 hingga 1333 yang disebut zaman Kamakura yang merupakan zaman transisi menuju abad pertengahan Jepang. Abad pertengahan berlangsung selama hampir 700 tahun ketika pemerintah pusat, istana, dan Kaisar Jepang umumnya hanya menjalankan fungsi-fungsi seremonial. Urusan sipil, militer, dan kehakiman dikendalikan oleh kelas samurai. Secara de facto, penguasa negeri kekuasaan politik berada di tangan shogun yang berasal dari klan samurai yang terkuat.
Pada 1185, Minamoto no Yoritomo menghancurkan klan Taira yang merupakan musuh bebuyutan klan Minamoto. Setelah pada tahun 1192 diangkat oleh Kaisar sebagai Seii Tai-Shogun, Yoritomo mendirikan pemerintahan militer di Kamakura dan berkuasa sebagai shogun pertama Keshogunan Kamakura. Setelah wafatnya Yoritomo, klan Hōjō menjadi klan yang berpengaruh dan bertugas sebagai wali shogun.

Samurai menyerang kapal-kapal Mongol pada tahun 1281.

Peristiwa terbesar dalam periode Kamakura adalah invasi Mongol ke Jepang antara 1272 dan 1281. Pasukan Mongol dengan teknologi angkatan laut dan persenjataan yang unggul mencoba menyerbu ke kepulauan Jepang. Angin topan yang kemudian dikenal sebagai kamikaze (angin dewa) membuat kekuatan invasi Mongol tercerai-berai. Meskipun demikian, beberapa sejarawan bersikeras bahwa pertahanan pantai yang dibangun Jepang di Kyushu cukup memadai untuk mengusir para penyerbu. Walaupun invasi Mongol berhasil digagalkan, usaha mengatasi serbuan bangsa Mongol menyebabkan berakhirnya kekuasaan keshogunan akibat kekacauan politik dalam negeri.
Zaman Kamakura berakhir setelah runtuhnya kekuasaan Keshogunan Kamakura pada tahun 1333. Kekuasaan dikembalikan ke tangan kekaisaran di bawah pemerintahan Kaisar Go-Daigo dalam masa Restorasi Kemmu yang hanya berlangsung singkat. Pemerintahan Go-Daigo kembali ditumbangkan oleh Ashikaga Takauji.

Zaman Muromachi

Dalam periodisasi sejarah Jepang, zaman Muromachi berlangsung dari sekitar tahun 1136 hingga 1673 ketika kekuasaan pemerintah berada di tangan Keshogunan Ashikaga yang juga disebut Keshogunan Muromachi. Pendiri Keshogunan Ashikaga adalah Ashikaga Takauji yang merebut kekuasaan politik dari Kaisar Go-Daigo dan sekaligus mengakhiri Restorasi Kemmu. Zaman Muromachi berakhir pada tahun 1573 ketika shogun ke-15 sekaligus shogun Muromachi terakhir, Ashikaga Yoshiaki diusir dari ibu kota Kyoto oleh Oda Nobunaga.
Tahun-tahun awal zaman Muromachi juga disebut zaman Nanboku-cho atau zaman Istana Utara-Istana Selatan ketika kekuasaan istana terbelah dua menjadi Istana Utara dan Istana Selatan. Sejak tahun 1467 hingga berakhirnya zaman Muromachi disebut sebagai zaman Sengoku atau "zaman negara-negara bagian yang berperang". Pada zaman Sengoku terjadi perang saudara dan perebutan kekuasaan antarprovinsi. Pada masa ini pula terjadi kontak pertama Jepang dengan orang-orang Barat yang disebut Perdagangan dengan Nanban ketika pedagang-pedagang Portugis tiba di Jepang.
Orang Portugis di Jepang pada abad ke-17, di antaranya terdapat misionaris Francis Xavier.

Sebuah kapal Portugis yang berlayar ke Cina terkena badai dan merapat di sebuah pulau Jepang bernama Tanegashima. Senjata api yang diperkenalkan oleh orang Portugis membawa kemajuan teknologi militer dalam periode Sengoku, dan berpuncak pada Pertempuran Nagashino yang melibatkan pasukan samurai yang dipersenjatai dengan 3.000 pucuk arquebus (jumlah sebenarnya diperkirakan sekitar 2.000 pucuk). Selama perdagangan dengan Nanban, para pedagang dari negara-negara lainnya, Belanda, Inggris, dan Spanyol juga ikut berdatangan. Kedatangan para pedagang juga membawa penyebar agama Kristen, Serikat Yesuit, Ordo Dominikan, dan misionaris Fransiskan.

Zaman Azuchi-Momoyama

Dari tahun 1568 hingga 1600 di Jepang disebut zaman Azuchi-Momoyama. Jepang bersatu secara militer dan negara menjadi stabil di bawah kekuasaan Oda Nobunaga yang dilanjutkan oleh Toyotomi Hideyoshi. Istilah zaman Azuchi-Momoyama berasal dari nama istana (kastil) yang menjadi markas kedua pemimpin besar, Nobunaga di Istana Azuchi dan Hideyoshi di Istana Momoyama.
Setelah berhasil menyatukan Jepang, Hideyoshi berusaha memperluas wilayah dengan melakukan invasi ke Korea. Dua kali usaha penaklukan Korea berakhir dengan ditarik mundurnya pasukan Hideyoshi dari Semenanjung Korea pada tahun 1598 akibat dikalahkan pasukan gabungan Korea dan Cina, serta wafatnya Hideyoshi.
Konflik suksesi pasca-Hideyoshi berakhir dengan munculnya Tokugawa Ieyasu sebagai pemimpin baru Jepang. Kekuasaan pemerintahan beralih ke tangan Ieyasu setelah mengalahkan pasukan pendukung Toyotomi Hideyori dalam Pertempuran Sekigahara.

Zaman Edo (1603-1868)

Fondasi batu di menara utama Istana Edo.

Pada zaman Edo adalah pemerintahan otonomi daerah berada di tangan lebih dari dua ratus pejabat daimyo. Sebagai klan terkuat, pemimpin klan Tokugawa dari generasi ke generasi menjabat sebagai shogun (sei-i taishōgun). Keshogunan Tokugawa yang bermarkas di Edo (sekarang Tokyo) memimpin para daimyo di masing-masing daerah otonom yang disebut domain (han).
Kelas samurai ditempatkan oleh keshogunan di atas kelas rakyat biasa, petani, perajin, dan pedagang. Keshogunan mengeluarkan undang-undang yang mengatur segala aspek kehidupan, dimulai dari potongan rambut dan busana untuk masing-masing kelas dalam masyarakat. Shogun mewajibkan para daimyo secara bergantian untuk bertugas di Edo. Mereka disediakan rumah kediaman mewah di Edo agar tidak memberontak. Kekuatan militer daimyo daerah ditekan, dan diharuskan meminta izin dari pusat sebelum dapat memperbaiki fasilitas militer. Keshogunan Tokugawa runtuh setelah Perang Boshin 1868-1869.
Zaman Edo adalah zaman keemasan seni lukis ukiyo-e dan seni teater kabuki dan bunraku. Sejumlah komposisi terkenal untuk koto dan shakuhachi berasal dari zaman Edo.

Periodisasi sejarah

Tahun Periode Periode Subperiode Pemerintahan
30.000 SM–10.000 SM Paleolitik Jepang tidak diketahui
10.000 SM–3000 SM Jepang kuno Jōmon klan-klan lokal
900 SM-250 SM (tumpang tindih) Yayoi klan-klan lokal
sekitar 250 Masehi-538 Masehi Yamato Kofun   klan Yamato
538-710 Masehi Jepang klasik Yamato Asuka
710-794 Nara Istana kekaisaran di Nara
794-1185 Heian Istana kekaisaran di Heian
1185-1333 zaman feodal Kamakura Keshogunan Kamakura
1333-1336 Restorasi Kemmu Kaisar Jepang
1336-1392 Muromachi Nanboku-cho Keshogunan Ashikaga, Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi
1392-1573 zaman Sengoku
1573-1603 Azuchi-Momoyama
 
1989-sekarang Heisei